pengemudi gojek marah

RatuBerita – Penolakan pengemudi terhadap sistem penilaian performa adalah alasan utama demonstrasi kali ini. Sistem yang dimaksud adalah ketentuan yang mereka harus penuhi untuk mencapai bonus.

Normalnya untuk mendapatkan bonus sebesar Rp140 ribu, pengemudi perlu mengumpulkan 14 poin dalam sehari. Poin tersebut diperoleh dari banyaknya order yang berhasil dipenuhi seorang pengemudi.

Untuk pesanan berjarak di bawah 5 kilometer, pengemudi akan mendapatkan satu poin. Pada jarak 5-10 kilometer, poin yang diperoleh 1,5 poin. Terakhir pada jarak di atas 10 km pengemudi dapat 2 poin.

Namun yang menjadi masalah bagi pengemudi adalah penilaian performa. Bonus yang seharusnya diterima tak akan turun apabila mereka tak mencapai performa 50 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding sistem penilaian yang ada sebelumnya.

Yang menjadi puncak kekesalan pengemudi adalah proses penilaian performa pengemudi yang tak transparan.

“Kita ga ngerti kenapa tiba-tiba kita dapat nilai performa di bawah 50 persen padahal kita bisa menyelesaikan 7 dari 10 order yang masuk,” tutur Frans salah satu pengemudi yang ikut berdemonstrasi.

Angka persentase adalah tingkat keberhasilan pengemudi menyelesaikan pesanan yang masuk. Dengan aturan yang ada sekarang, sebenarnya pengemudi mengantongi ‘privilese’ untuk tidak menanggapi order yang masuk.

Namun dalam sistem yang baru juga, pengemudi justru tak punya kesempatan memilih. Sistem yang ada sekarang tak memberikan napas bagi pengemudi. Mereka yang baru saja mengerjakan order bisa tanpa henti karena server Gojek terus menembakkan perintah mengantar penumpang. Hal tersebut jadi dilema bagi sopir Gojek jika kelelahan dan ingin menolak pesanan yang masuk. Sebab apabila ditolak, persentase performa bisa anjlok drastis.